Izinkan Aku untuk Cuti dari Dakwah ini

January 15, 2008

Oleh: Farizal Al Boncelli
dari milis : Alumni ROHIS 49

Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama’i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata “afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan akh…” lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah “Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???
Sahabat-sahabatku… . Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.
Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”
Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.
Sahabat…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewa an yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.
Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “afwan”, “maaf” atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang bilang bahwa kata-kata “afwan”, “maaf” dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.
Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.
Sahabat…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata “afwan” yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata “Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini” tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah.

Semoga…


sebuah catatan di Probolinggo..(2)

December 27, 2007

Terjawab sudah sebuah teka – teki yang selama ini terus terngiang ngiang di otaku, mengenai hakikat dan manfaat hidupku yang jawabannya  berasal dari sang murrobi.

Untuk apakah hidup ini sebenarnya ? jawaban klise dan memang benar adalah untuk beribadah kepada Alloh SWT.

Tidak aku ciptakan jin dan manusia untuk menyembahku ( Al jin :  )

Tapi bukan itu yang aku cari tapi aku ingin menghindari rutinitas manusia pada umumnya, yang lahir, tumbuh dewasa, kuliah, kerja, menikah, punya anak, tua dan mati apa yang membedakan kita dari manusia pada umumnya,

Ternyata jawabannya tak lebih dari lima huruf, dan apakah itu, ??????

That’s it DAKWAH eh, enam huruf ding!

Dakwah yang membedakan kita dan menjadikan kita punya nilai lebih didunia ini dan mengapa rosul dan nabi memiliki keutamaan disisi Alloh, mengapa jalan ini adalah jalan para nabi, rusul, ulama, dan salafussalih.

 Terus juga mengapa amal kita dalam dakwah ini bisa berbuah sampai tujuh ratus , sampai sepuluh

Pun terjawab sudah juga ditangan sang murrobi, jazzakallah ya ustadz!!!!!!!!!!!

Ternyata dalam dakwah dikenal istilah CGC customer get customer ,yang oleh orang awam lebih dikenal MLM multi level marketing

Maka jangan heran ketika dihari yaumul hisab nanti kita akan menemukan amalan yang menurut kita tidak pernah ada tapi tercatat di buku catatan amal para malaikat.

Ya,amalan saudara kita yang telah kita ajak dalam risalah dakwah ini, yang tentu saja tak mengurangi timbangan amalan si empunya amalan.

SUBHANALLAH maha suci ALLOH yang telah menuncukkan jalan yang begitu istimewa dan sistim yang menakjubkanku

Itulah mengapa kita tidak pernah bisa mengalahkan amalan orang – orang yang pertama masuk Islam karena kita berada dilevel baru dalam dakwah ini.

 Saudaraku mari kita sebarkan produk Illahi ini kesemua orang agar keuntungan kita berlipat – lipat, mari kita mengadakan transaksi dengan Robb kita.

Ya kita akan menjual sholat kita, wa ibadah kita, wa hidup kita, wa mati kita untuk Alloh semata yang diganti dengan sesuati yang kita inginkan, apakah itu?????

 Safa’at Rosullullah daperjumpaan dengan kekasih hati kita ini, seteguk air telaga salsabila, telaga alkautsar, dan perlindungan Alloh dipadang mahsyar, perjumpaan dengan-Nya, dan juga jannah-Nya,dan masih banyak lagi

Trtarik,  jadi downlineku????????

Siapa yang mau jadi partnerku??????? 

Siapa mau melakukan transaksi yang ndak akan merugi ini??????????

 
Silahkan hubungi:

Murrobi murrobiah masing – masing

Ato datang langsung

Di Masjid Baitul ‘Izzah kampus ITATS

 

Mari kita ajak – ajak dan ajak dan ajak dan ajak lagi, lagi dan lagi lagi dan lagi

Untuk kekayaan yang abadi yah kekayaan yang abadi.

 

Wallohua’lam bishowab

 Probolinggo, 13 Februari 2006


sebuah catatan di Probolinggo..(1)

December 27, 2007

Karang di tepi laut begitu anggun berdiri tegak melawan hempasan gelombang yang bertubi – tubi dan tak kenal siang maupun malam, teguh kokoh .

Pasir ditepi laut pun begitu indahnya, putih bersih  dan juga air laut yang begitu jernih mengalir pasang dan surut begitu indah menampakkan karang , ikan dan seluruh isinya.

Angin bertip begitu lembut dan pohon bakau yang hidup dipinggir pantai yang menakjubkan.

 Saat sang Fajar mulai menyingsing di ufuk timur begitu indahnya kemerahan bak bidadari muncul dengan senyum tersipu.

Saat sang Surya tenggelam diufuk barat begitu mempesona dengan bertabir awan tipis nampak begitu Anggun.

 Saudaraku,

Semuanya adalah karunia yang telah Alloh ciptakan untuk kita nikmati, kita syukuri, kita tafakuri dan kita maanfaatkan.

Namun bukan itu yang akan ane sampaikan dalam tulisan kali ini , tapi makna sebuah perjumpaan dan perpisahan yang begitu indah, yang oleh sebagian orang perpisahan begitu menyakitkan.

Sampai ada yang berkata “ kalau harus berpisah mengapa harus berjumpa”

 Saudaraku,

Semoga ucapan ini tak berlaku bagi kita ummat Rosullulloh SAW , dimana perumpaan dan perpisahan kita adalah untuk Alloh SWT jua dimanapun kita, hati – hati kita telah terpaut, terikat kuat dan tak akan luntur oleh apapun. 

Yah memang perjumpaan begitu manis dan indah, udaranya masih sejuk, segar, embun menetes dan burung – burung berkicau. Semoga itu menjadi kenangan manis yang semoga tak akan terlupakan oleh kita semua.

 Saudaraku,

jika tiba saat berpisah air mata menitik, berat, enggan, namaun itulah sunatulloh yang akan terjadi setiap saat dalam hidup kita. Karena memang kehidupan kita, perjumpaan kita bukanlah didunia yang serba fana ini.

Ya, antum benar semoga jannahlah tempat pertemuan, perjamuan, perjumpaan yang abadi dimana kita saling mengucap salam, berjumpa dengan bidadari dengan mata begitu indah, yang senantiasa perawan dan suci. Dengan istri kita yang cantik jelita yang mau mengorbankan tenaga, harta, pikiran, bahkan nyawanya untuk jalan dakwah ini.

 Saudaraku,

Jika telah tiba waktu untuk berpisah, sekalah air mata antum. Karena bukan disini tempat pertemuan kita.

Mari saudaraku ajak ayah, ibu, adik, teman, ikhwan, akhwat, dan semua untuk berbekal untuk sebuah perjumpaan yang abadi.

Mari kita siapkan jundi – jundi pengganti kita yang akan meneruskan risalah dakwah para anbiya ini, mari kita kuatkan azzam kita untuk tetap teguh bak karang yang kokoh dalam menjalani risalah dakwah ini.

 Saudaraku,

Jangan ragu untuk berpisah karena kita akan bersua kembali, ya kita akan bersua kembali tanpa ada beban lagi dipundak kita, tanpa ada kelelahan, keletihan dan kita akan dijamu oleh Robb kita yang maha kaya, maha agung, dan maha abadi.

 Saudaraku,

Semoga Alloh memudahkan kita, meringankan beban kita yang semakin berat, meneguhkan hati kita.

 

Probolinggo, Senin 13 February 2006


Renungan untuk sesepuh

December 27, 2007

( dari catatan hati seorang teman yang diposting di sebuah milis )

Saat masih aktif di kegiatan dakwah kampus dulu, mungkin yang
terpikir tentang komitmen adalah ketika kita rajin datang syuro,
selalu terlibat di kepanitiaan, ga pernah absen hadir di halaqah.
Lha kalo dah ga ngampus kayak saya gimana ya? Dah ga ada amanah di
kampus, dah ga ada yang ngundang syuro, dah ketuaan kalo mo ndaftar
jadi panitia. Kayaknya segala agenda jadi berorientasi ke kuliah en
tugas akhir melulu… garing men! Keterlibatan secara pasti cuma di
halaqah. Padahal kadang kalo lagi muales, halaqah jadi nggak berasa.
Gara-gara berkurangnya frekuensi interaksi dengan sesama aktivis
dakwah, sering nilai-nilai yang dulu dipegang mulai kendor, norma-
norma mulai meluntur.

Ah… paling ga ada yang ngeliat saya. Itu karena kalo dulu berbuat
aneh-aneh, status kita masih jadi pengurus organisasi Islam
tertentu, n now rasanya lebih bebas mau ngapain aja. Lho kan emang
dah mendekati waktunya saya nikah, liat-liat calon dulu boleh lah…
siapa tau ada yang cocok. Lho?! Bahan obrolan dan teman-teman
komunitas memang amat mewarnai diri kita. Terutama kalo kita ga
punya penyeimbang. Prinsip yang kokoh pun perlahan memudar. Teringat
awal kuliah dulu. Sosok itu sepertinya pernah lumayan aktif
dilembaga dakwah, saat upgrading dia membantu panitia, karena
angkatan atas, saya tidak begitu mengenalnya. Tapi saya kecewa
ketika tahu bahwa cara hidupnya tidak berbeda dengan teman-teman
saya yang bukan aktifis dakwah (kalo solat n puasanya ga tau ya,
saya kan ga nguntit dia). Atau seorang kawan yang mengeluhkan akhlak
kakak angkatannya sesama aktifis. Dengan cap buruk tersebut, tentu
saya tidak ingin hal yang sama terjadi para diri saya (hanya Allah
Yang Maha Tahu).

Ujian hidup paska kampus memang jauh lebih berat. Bukan retorika
dan dialektika yang dihadapi, tapi hal-hal prinsipil yang kadang
kita anggap sepele tetapi langsung bersentuhan dengan komitmen
seorang kader dakwah. Apalagi saat kita berada di dunia kerja atau
masyarakat awal yang minim dari pemahaman agama. Mungkin Kang Fathi
Yakan dengan buku Komitmen Muslim Sejati-nya bisa membantu kita
menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini.

Seorang ustadzah yang saya catat isi ceramahnya mengatakan,
setidaknya ada empat kemungkinan penyebab lunturnya komitmen atau
militansi keislaman seseorang. Diharapkan kalau kita sudah
mengetahui, kita dapat mengantisipasi dan menghindarinya.

Pertama, akibat lemah mengurus diri sendiri. Kita terlalu sibuk
dengan segudang amanah sampai melupakan kebutuhan diri. Bahkan
sampai melupakan halaqah dan ibadah-ibadah utama. Kita
mengkambinghitamkan amanah sebagai penyebab lemahnya ruhiyah. Atau
kita menganggap bahwa `pemberian’ kita untuk umat itu sudah bisa
menggantikan kebutuhan kita akan suplemen keimanan. Padahal saat
hisab nanti, kita dihisab sendiri, tidak bersama jamaah yang
mengemban amanah bersama kita. Amalan utama yang diperhitungkan
adalah amalan penting tadi. Sedangkan amanah `hanya’ beban jamaah.
Sebagaimana fardhu `ain lebih utama untuk kita penuhi dari fardhu
kifayah. Bahkan setan yang terang-terangan menggelincirkan kita pun
tidak mau ikut menanggung dosa kita [59:16]. lantas seberapa naifkah
keadaanmu sampai harus mengorbankan tarbiyah dzatiyah untuk sesuatu
yang seharusnya tidak menyebabkan kita lalai?

Penyebab kedua, karena kita enteng bermain-main dengan dosa.
Rutinitas dakwah maupun aktivitas lainnya pada akhirnya akan
mendatangkan kejemuan, kebosanan dan kebe-tean. Sehingga dari sini
mungkin saja kita tergoda untuk mencoba-coba sesuatu. Salah satu
contoh kasus, percaya atau tidak, VMJ dapat mengubah seluruh
kepribadian seseorang. Mungkin ada banyak kejadian di sekitar kita,
setelah terkena VMJ (dan tidak mau disembuhkan), seorang kader
dakwah menjadi jauh dari jamaah. Agenda dakwah tak lagi menjadi
perhatiannya, yang dulu sahabat perjuangan menjadi tidak dikenalnya.
Sedikit demi sedikit komitmen menjadi luntur. Padahal, jauh dari
jamaah merupakan awal kehancuran seseorang.

Ketiga, disebabkan oleh beban yang sangat berlebihan. Di beberapa
tempat dan masa, terjadi ketidakmerataan pembagian amanah. Ada
seorang kader yang memiliki beberapa amanah strategis pada waktu
yang sama, sementara kader yang lain tidak memiliki amanah. Di luar
kemungkinan kapabilitas yang memang juga tidak merata, hal ini dapat
mengakibatkan kader menjadi drop. Bisa jadi awalnya dia menjadi
lilin yang menerangi tapi membiarkan dirinya leleh (lihat penyebab
pertama). Kesibukan yang menumpuk tanpa dibarengi dengan kesiapan
fisik, mental dan spiritual yang memadai justru akan membuat kader
lelah dan ngambek.

Penyebab keempat, karena kader tidak mampu mengikuti pelebaran
wilayah dakwah. Kalau dulu dakwah baru merambah ke masjid, kajian,
tabligh dan taklim saja, di waktu sekarang telah merambah ke lembaga
kampus, sekolah (boarding school), LSM, parpol dan lainnya.
Maratibul amal yang dipegang membuat dakwah harus dimekarkan ke
wilayah mana saja. Ketika dakwah semakin luas, terdapat wilayah abu-
abu yang rawan. Misalnya wilayah dakwah yang berhubungan erat dengan
kekuasaan, uang atau popularitas. Ketika kita berada pada wilayah
tersebut dan tidak memiliki pegangan yang teguh, sangat mudah untuk
tergelincir ke sikap riya, rakus, ujub yang dapat berujung pada
lunturnya militansi.

Naudzubillahi mindzalik. Semoga Allah menjaga dan menyelamatkan
kita. Menghindarkan kita darinya atau mengembalikan kita ke jalan
yang lurus ketika kita mulai berbelok. Sehingga kita tidak diperolok
manusia, `dulunya da’i, sekarang kerjanya cari do’i’. Atau
perjuangan panjang kita menuju mihwar dauli ini tidak berubah
orientasi menjadi mihwar gauli.

Keep fight..ikhwah fillah..whereever..whenever..however..