Mitos Cewek Cerewet

January 15, 2008


Cewek tuh cerewet, liat aja julukan-julukan terkenal macam ‘tante cerewet’, ‘istri bawel’, ‘cewek ceriwis’, dan segudang julukan lain yang bersinonim dengan kata cerewet, seringkali nempel pada makhluk bernama cewek, jarang banget kata itu nempel pada cowok. Eit….meskipun ada lho kemungkinan kata-kata itu nempel pada cowok, hehe….. Tapi berhubung kolom ini dikasih nama cewe banget, kita anggap aja asumsi di atas itu benar, meskipun pada kenyataannya ya….emang bener juga sih (lho kok..?? ga boleh protes lho, ntar kumat cerewetnya hehe….).

Eh, omong-omong, cerewet tuh apa-an sih? Kata orang neh, kamu-kamu yang punya tahi lalat di bawah bibir sebelah kanan, itu tandanya kamu tuh orangnya cerewet. Nah, apakah yang tidak punya tahi lalat di situ dijamin tidak cerewet? Waduh-waduh kok jadi ngomongin tahi lalat? Sudah lupakan saja. Ok, come back to the topic!.

Kata ‘cerewet’ sering diartikan sebagai ‘banyak bicara’, ‘banyak omong’, ‘berisik’, ‘sok tahu’ dan lain-lain. Misalnya orang yang mo beli bakso, bilang ke penjualnya “Pak, beli bakso satu porsi, ga pake sambel dan saos, mienya yang kuning doank, pake somay, jangan terlalu panas, tapi ga pake pentol dan tolong dikirim via email ya Pak!” Glodaks!! Waduh, yang begini ini neh, betul-betul cerewets (bentuk jamak, saking cerewetnya). Kalau lihat ini doank, pasti dalam benak kamu, kata ‘cerewet’ punya arti yang minus, miring, jelek, pokoknya kamu bakalan mengeluarkan berbagai jurus penolakan bila kamu diberi sebutan ‘cerewet’.

Sebenarnya neh gals, boleh-boleh aja kok kita cerewet, bahkan terkadang kita kudu cerewet. Eit, bagi kalian yang biasa cerewet, jangan keburu merasa senang ya. Gini lho, dalam hal-hal tertentu bahkan kita diwajibkan untuk cerewet. Misalnya kita disuguhi makanan yang kelihatannya super enak, dan bikin air liur kita mengalir bak air terjun Niagara (hii…jijay), kita ga boleh asal sekrop aja makanan itu. Apalagi kalau stempel halal belum benar-benar “nempel” di hidangan itu. Kita wajib “cerewet”, dalam artian cari tahu, apa saja sih komposisi dari makanan itu, apalagi kalo kita ke restoran yang levelnya internasional. Tahu kanrestoran internasional itu apa? Itu-tuh, restoran kopi tubruk. Hehe. By the way, kita kudu selidiki lho, dagingnya daging apa, kita ga mau kan kalo disuguhi daging dinosaurus. Selain itu, minumannya ada alkoholnya apa tidak. Terus apa ada zat-zat yang ga bagus buat tubuh dan lain-lain. Nah, ini adalah cerewet yang baik. Dieng!!

Demikian pula dengan macem-macem hal yang terjadi di lingkungan kita. Kita sebagai cewek kudu melek dan peduli dengan kejadian di sekitar kita, biar kita ga kuin, kuper ato katrok. Dalam QS Al-Imron : 104 disebutkan “Dan hendaknya ada di antara kamu segolongan umat yang menyerukan pada kema’rufan, mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dan mereka itula orang-orang yang beruntung” Gals, dari sini kita tahu bahwa kita disuruh untuk ‘cerewet’ bila ada kemungkaran, yaitu dengan saling ngingatkan dan menyerukan kebenaran. So, kalo ada teman kita yang salah, kita kudu kasih tahu ke dia apa salahnya dan gimana sih yang bener. Jangan hanya nyalahin doang atuh neng. Soal ngingatkan ini ga dibatasi pada teman aja lho, bahkan jika pemerintah kita salah dalam ambil kebijakan pun, kita juga wajib untuk ngingatkan atau ngkritik. Lalu gimana donk caranya? Apakah dengan mengirimkan surat tanpa nama ke Pak Presiden? Atau ngelempar pejabat pake kaleng (surat kaleng nih ye…!!). Ga lagi, tentunya, dengan cara yang ma’ruf dong. Misalnya, dengan menulis opini di koran, ikut aksi damai untuk ngingatkan pemerintah dan lain-lain. Waduh mbak, masak cewek berpolitik? Eit, jangan salah, berpolitik itu artinya sadar akan urusan masyarakat, kalau kita ga “cerewet” dan ga peduli dengan urusan masyarakat, padahal kita termasuk bagian dari masyarakat, bagaimana kalau masyarakat itu rusak? Hayoo….apa kita mau jadi rusak juga? Emoh atuh Mbak?? Apalagi Allah memang memerintahkannya kepada manusia untuk saling mengingatkan dalam kebenaran, tanpa ada batasan cewek or cowok. Oke deh….

Karena kita tuh muslimah, maka standar ber-‘cerewet’, baik itu mengkritik, berpendapat dan lain-lain juga kudu kita sandarkan pada Islam. Bagaimana Islam ngaturnya? Gampang kok, disesuaikan dengan Al-Quran dan As-sunnah. Nah, berarti kita kudu belajar untuk tahu gimana Islam mengatur berbagai permasalahan tadi, dengan cara mengkaji Islam, supaya bisa nyampaikan apa-apa yang benar menurut Islam. Tul nggak? Dengan begitu, ATP dan ADP kita dalam ber-cerewet ria ga akan terbuang sia-sia. Ingat lho ya, pas nyampaikan sesuatu, jangan sampai merendahkan lawan bicara, apalagi dengan suara keras atau berteriak, pilih deh kosakata yang bagus. Allah SWT berfirman, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (TQS. An Nahl: 125).

Intinya, sampekan ke-cerewet-an kita itu dengan cara yang ikhsan, yang benar dan kudu ikhlas karena Allah Ta’ala, agar orang lain itu bisa nerima kritikan atau saran kita dengan legowo, dan bukan sebaliknya. Ok, gals, yuuk kita ber-cerewet dengan cara yang benar!.

 
Disadur dari islamuda.com


Cewek Jablai? No Way!!

January 15, 2008

…lai-lai-lai-lai-lai-lai, panggil aku si jablai,

abang jarang pulang, aku jarang dibelai…

Dua baris lagu tadi pasti ngingetin kamu ama seseorang. Titi Kamal dengan filmnya Mendadak Dangdut. Tapi kali ini kita ga akan ngomongin cewek gandengan Christian Sugiono itu ato film yang dibintanginya. This time, kita mo ngebahas cewek jablai.

Ada aja emang yang namanya istilah, kalo beberapa waktu lalu kita pernah dikenalin ama cewek komersil lewat akting Asti “Juwita” Ananta. Ada juga istilah cewek matre yang sempat jadi judul lagu rap sebuah kelompok rapper yang sekarang ga tau kemana. Terus ada ayam abu-abu, ayam kampus sampe ayam jago (yee… yang terakhir mah asli!). Nah sekarang kita mulai akrab dengan istilah jablai alias jarang dibelai. Emang sih kalo dicari di kamus manapun ga bakalan ketemu, coz ini adalah istilah gaul yang nempel ama seseorang-biasanya cewek-yang mencari belaian cowok.

Dilihat dari istilah, cewek jablai emang kedengeran baru. Tapi kalo tau sepak terjangnya, kayaknya setali tiga uang ama “stempel-stempel” pendahulunya. Intinya cuman uang dan kesenangan. Barangkali nama baru sengaja dimunculkan untuk menutupi “jejak” biar yang kuper ga tau maksudnya. Ato biar ga terlalu panas di telinga, yang salah-salah bisa berakhir jadi sebuah permakluman (kan jarang dibelai, boleh kan?), naudzubillah.

Konon, banyak faktor yang membentuk generasi kartini model satu ini. Salah satunya adalah gaya hidup. Di dunia kapitalis seperti sekarang ini, kayaknya orang miskin ga akan pernah jadi perhitungan apalagi bakalan masuk nominasi Indonesia Movie Award, (maksa ya!!). Bagi yang merasa “miskin”, segala cara dilakoni biar label itu lepas dari dirinya. Jadi cewek jablai bukan ga mungkin menjadi opsi

pertama, kerja sebentar, uang banyak.


Pergaulan adalah faktor kedua yang punya pengaruh besar buat mencetak seseorang sebagai cewek jablai. Believe it or not, gimana kita, sangat bisa dinilai dari siapa temen kita. Kalo mo ikutan wangi mesti gaul ama tukang minyak wangi. Tapi kalo saban hari kita nongkrong di bakul terasi, jangan harap bakal jadi wangi (wangi terasi sih iya, he…he…). Artinya, kita mesti bener-bener selektif pilih orang yang bakalan nemenin aktivitas kita sehari-hari, jangan asal comot!

Alasan ekonomi, kadang jadi kedok, padahal itu cuman alasan klise yang dicari-cari untuk membenarkan perilaku mereka. Soalnya kebanyakan cewek jablai sebenernya bukan potongan miskin, ato punya kewajiban menafkahi di tengah-tengah keluarga. Tapi dia sengaja menjadi jablai just for fun. Kalopun dia bener-bener miskin, terpaksa nglakuin itu karena ga ada kerjaan lain, sebenarnya dalih itu juga nonsens dan cuman berlaku buat mereka yang udah jebol imannya (duh, segitunya). Pastinya media dan juga sistem yang ada punya andil besar mempopulerkan jablai,


Sebagai muslimah kamu-kamu mesti bisa jaga diri. Jangan cuman karena bisikan teman, iklan di tipi, ato sepintas ngeliat gaya hidup jetzet kita lantas rela nglepasin kehormatan kita. Islam sangat mewajibkan muslimah untuk menjaga kehormatan dirinya. Sebagaimana Alloh swt berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara

kemaluannya.”(QS. An-Nur : 31).

Kalo satu-satunya mahkota kita udah terenggut, apalagi yang kita punya? Cuman cewek yang kehilangan akal dan imannya aja yang bakal menodai dirinya sendiri.


Gals, selama nafas masih berhembus dan jantung masih berdetak, belum terlambat untuk mulai memperbaiki atau menjauhkan diri dari aktivitas cewek jablai. Kita mesti ingat kalo dunia ini cuman persinggahan, tempat buat mencari bekal di hari akhir nan abadi nanti. Membentengi diri dengan iman adalah langkah awal untuk itu semua. Pastinya banyak-banyak mengkaji Islam bakalan jadi jurus ampuh untuk semakin mengokohkannya. Selain itu, kumpul bareng orang-orang yang sholihah sebagaimana nasihat Bang Opick, dijamin bikin idup kita lurus mengikuti jalanNya sekaligus adem biar ga tinggal di rumah yang ber-AC. So, cewek jablai, no way!

Disadur dari islamuda.com


Izinkan Aku untuk Cuti dari Dakwah ini

January 15, 2008

Oleh: Farizal Al Boncelli
dari milis : Alumni ROHIS 49

Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama’i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata “afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan akh…” lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah “Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???
Sahabat-sahabatku… . Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.
Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”
Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.
Sahabat…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewa an yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.
Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “afwan”, “maaf” atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang bilang bahwa kata-kata “afwan”, “maaf” dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.
Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.
Sahabat…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata “afwan” yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata “Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini” tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah.

Semoga…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.